Batas Kejujuran

Daftar Isi
FORSASTRA • CERPEN + LAGU

BATAS KEJUJURAN

Cerita pendek ini ditulis sebagai resonansi dari sebuah lagu tentang dua orang yang masih saling dekat, namun perlahan berbeda arah.

Oleh Prasetiadi Yuliandanu · ForSastra
editorial illustration of a quiet couple in a reflective emotional moment at night in a Southeast Asian city
Dengarkan lagunya terlebih dahulu, atau biarkan ia mengalun sambil membaca cerita ini.

Ada hubungan yang tidak hancur karena pertengkaran. Ia hanya menjadi sunyi, lalu pelan-pelan kehilangan arah.

“Langkahmu terasa makin menjauh, meski jemarimu masih di genggamanku.”

Di alam ada burung yang terbang berpasangan dalam musim tertentu.

Ada yang tampak selalu bersama dari bawah. Sama-sama membelah langit, sama-sama menembus angin. Tapi alam tidak pernah benar-benar menjamin bahwa semua yang terbang berdampingan akan mendarat di tempat yang sama.

Kadang-kadang, arah angin berubah duluan. Baru setelah itu hati menyusul.

Malam itu mereka duduk di bangku taman kecil, tak jauh dari halte. Trotoar masih basah. Lampu jalan memantul di genangan tipis. Kota tetap sibuk seperti biasa, seolah tidak tertarik pada dua orang yang sedang belajar menjadi asing.

Tangan mereka masih saling menggenggam. Itu barangkali bagian yang paling menyedihkan. Sebab tubuh sering lebih lambat menerima kenyataan dibanding perasaan.

“Langkahmu terasa makin menjauh,” katanya pelan, “meski jemarimu masih di genggamanku.”

Perempuan itu tidak langsung menjawab. Ia hanya memandang jalan di depan, seperti ada sesuatu di kejauhan yang sudah lebih dulu memanggil namanya.

Laki-laki itu tersenyum kecil. Senyum orang yang sebenarnya sudah tahu jawaban, hanya ingin mendengarnya dengan jujur.

“Aku tak ingin menjadi beban,” katanya lagi, “dalam setiap rencana yang kau tuliskan.”

Kali ini perempuan itu menunduk. Mungkin karena kalimat yang paling berat memang sering datang dengan suara paling pelan.

Tidak ada tangisan. Tidak ada adegan besar seperti dalam film yang terlalu percaya diri pada hujan dan musik latar. Hanya ada dua orang yang sama-sama lelah berpura-pura baik saja.

Akhirnya perempuan itu menarik napas.

“Mungkin kita memang sudah lama menunda luka,” katanya.

Angin lewat. Sebuah motor melintas. Seseorang tertawa dari kejauhan. Kota, seperti biasa, lebih sibuk mengurus dirinya sendiri daripada patah hati orang lain.

Lalu tangan itu dilepaskan pelan-pelan. Bukan dengan marah. Bukan pula dengan dramatis. Hanya seperti seseorang yang akhirnya sadar: tidak semua yang pernah digenggam harus dibawa sampai akhir.

Mereka berdiri. Menatap satu sama lain sebentar. Setelah itu berjalan ke arah yang berbeda, dengan langkah yang sama-sama pelan, seolah masih memberi kesempatan kecil pada masa lalu untuk memanggil mereka kembali.

Tapi tidak ada yang memanggil.

Di langit kota, seekor burung malam melintas sendirian. Mungkin ia tersesat. Mungkin juga ia hanya akhirnya mengikuti arah yang benar.

“Kadang tubuh masih bersama, tapi arah hidup sudah berbeda.”

Lagu: Batas Kejujuran
Format: Cerpen pendek berbasis lirik / soundtrack fiction
Catatan: Batas Kejujuran adalah lagu pop reflektif tentang hubungan yang perlahan berubah arah.Kadang dua orang masih saling menggenggam tangan, tetapi perlahan arah dan tujuan perlahan makin berbeda..
ForSastra - cerita pendek tentang manusia, ironi, dan hal-hal yang selesai tanpa rencana.

Posting Komentar